ASKEP
PERSALINAN DENGAN PROLAPS TALI PUSAT
A.
Definisi
Prolapsus
tali pusat adalah keadaan menyembul sebagian atau seluruh tali pusat. Pada
keadaan ini tali pusat sudah berada didepan atau disamping bagian terbawah
janin. Prolaps tali pusat terjadi jika tali pusat terletak di bawah bagian
presentasi janin. Prolaps tali pusat dapat bersifat okulta (tersembunyi, tidak
terlihat) selama persalinan, baik selaput ketuban sudah pecah maupun belum
(Bobak, 2004). Prolaps tali pusat adalah tali pusat berada di samping atau
melewati bagian terendah janin dalam jalan lahir setelah ketuban pecah (Mansjoer, 2000).
Jadi, prolaps tali pusat adalah tali pusat dalam
keadaan menyembul sebagian atau menyeluruh dan melewati bagian terendah janin
dalam jalan lahir setelah ketuban pecah dini.
B.
Insiden
Mortalitas terjadinya prolaps tali pusat pada janin sekitar
11-17 %. Insiden terjadinya prolaps tali pusat adalah 1 : 3000 kelahiran, tali
pusat menumbung kira-kira 1 : 200 kelahiran, tetapi insiden dari occult prolapse 50 % tidak diketahui, 0,5
% pada presentasi kepala, 5 % letak sungsang, 15 % pada presentasi kaki, dan 20
% letak lintang (Sari, 2011).
Beberapa kejadian occult
prolapse menyebabkan satu atau lebih kejadian dengan diagnosa kompresi tali
pusat. Prolaps tali pusat lebih sering terjadi jika tali pusat panjang dan jika
plasenta letak rendah. Myles dalam Sari (2011) melaporkan hasil
penelitiannya dalam kepustakaan dunia bahwa angka kejadian prolap tali pusat
berkisar antara 0,3 % sampai 0,6 % persalinan (Sari, 2011).
C.
Etiologi
Setiap faktor yang mengganggu
adaptasi bagian terendah janin dengan pintu atas panggulakan memberi
kecendrungan (predisposisi) terjadinya prolaps tali pusat. Beberapa
predisposisi tersebut (Health On the Net Foundation, 2002)
sebagai berikut:
1. Presentasi
atau letak janin yang tidak normal seperti letak lintang terutama pada punggung
janin di fundus, letak sungsang, presentasi muka atau dahi, dan presentasi
ganda. Keadaan- keaadaan tersebut biasanya dapat membuat jalan lahir tidak
terisi penuh, sehingga memudahkan timbulnya prolaps tali pusat.
2. Keaadaan
dimana presentasi janin masih tinggi atau belum masuk pintu atas panggul,
seperti pada multiparitas, prematuritas dan panggul sempit.
3. Polihdramnion,
dimana air ketuban lebih banyak dari normal sehingga sewaktu ketuban pecah, air
ketuban keluar sering disertai prolaps tali pusat.
4. Kehamilan
ganda. Prolaps tali pusat sering terjadi saat melahirkan bayi yang ke-2.
5. Hidrosefalus
dan anensefalus
6. Plasenta
previa dan plasenta letak rendah
D.
Faktor
resiko
1. Usia
gestasi muda.
2. Berat
badan lahir rendah.
3. Presentasi
abnormal dengan bagian presentasi yang menimbulkan jepitan didalam panggul
(yaitu bokong).
4. Kehamilan
multiple, khususnya dengan malpresentasi janin kedua.
5. Paritas
tinggi ( karena tidak masuknya bagian presentasi saat ketuban pecah).
6. Bagian
presentasi tinggi didalam panggul.
7. Polihidramnion.
(
Boyle, 2008)
E.
Patofisiologi
Dua mekanisme patofisiologi yang berbeda untuk prolapse tali
pusat Clark (1968) mengemukakan bahwa janin yang memiliki sirkulasi plasenta
normal dapat melindungi tali pusat dari prolaps dengan mempertahankan kekuatan
melalui tekanan turgor. Namun, jika terjadi kompresi tali pusat lama, tali
pusat menjadi lemas dan dapat lebih mudah prolaps. Baru-baru ini, Mc-Daniels
(2001) berpendapat bahwa asidemia adalah penyebab prolaps tali pusat. Segmen
dari tali pusat diperfusi dengan larutan pH. Umbilical asidemia arteri terbukti
meningkatkan turgor dari tali pusat. Berbeda dengan Clark (1968) yang berpendapat
bahwa tali pusat kurang kuat mungkin prolaps, McDaniel (2001) mengemukakan
bahwa kekuatan meningkat menyebabkan daya apung menurun dan predisposes tali
pusat ke prolapse (Lin, 2006).
F.
Tanda dan
Gejala
1. Takikardi
( DJJ>160 dalam 10 menit ).
2. Bradikardi
( DJJ< 100 dalam 10 menit).
3. Teraba
tali pusat saat pemeriksaan dalam.
4. Ibu
tampak lemah.
5. Apatis.
6. Dehidrasi.
7. Suhu
dan nadi meningkat.
(Saefudin,
2000)
G.
Efek
maternal dan Neonatal
1. Efek
neonatus pada persalinan dengan prolaps tali pusat
Bahaya pada bayi prolaps
tali pusat, terjadi moulage (pengecilan ukuran kepala yang berdampak
buruk pada anak atau kematian) ( Ambarwati, dkk, 2011). Gawat janin atau bayi
mati, partus prematuritas, keadaan
janin dengan prolaps tali pusat dapat menyebabkan asfiksia neonatorum (Sunarto,
2010).
2. Efek
maternal pada persalinan dengan prolaps
tali pusat
Bahaya untuk ibu hanya apabila dilakukan
tindakan traumatik untuk menyelamatkan bayi. Terjadi infeksi intrapartum dan pada prolapsus dilakukan
seksio atau persalinan normal yang dapat menimbulkan terjadinya trauma jaringan
dan leserasi pada vagina servik ( Khan, 2007).
H.
Pemeriksaan
Diagnostik
1. Pemeriksaan
vaginal untuk mengetahui perubahan posisi prolaps tali pusat
2.
Pemeriksaan cardiotocography untuk melihat kemungkinan
adanya prolapsus tali pusat.
3. Pemeriksaan Fetal Doppler untuk mendeteksi detak
jantung janin pada ibu hamil. Fetal Doppler menggunakan sensor Ultrasound
dengan frekuensi 2 MHz untuk mendeteksi detak jantung janin berdasarkan prinsip
doppler, yaitu memanfaatkan prinsip pemantulan gelombang yang dipancarkan oleh
sensor ultrasound.
I.
Penanganan
Bila tali pusat masih berdenyut,tetapi pembukaan belum
lengkap dapat dilakukan reposisi tali pusat atau mengakhiri persalinan dengan
seksio sesarea. Reposisi tali pusat hanya dilakukan bila seksio sesarea tidak
mungkin dilakukan karena sulit.
Reposisi tali pusat yaitu dengan memasukan gumpalan kain kasa
tebal ke dalam jalan lahir, melilitkan ke tali pusat dengan hati-hati, kemudian
mendorong seluruhnya perlahan-lahan ke kavum uteri di atas bagian terendah
janin. Tindakan lebih mudah dilakukan bila ibu dalam posisi trendelenburg.
Seksio sesarea untuk menjaga tali pusat agar tidak mengalami
penekanan dan terjepit oleh bagian terendah janin. Untuk hal ini,dengan pasien
dengan posisi trendelenburg, masukan satu tangan ke dalam vagina untuk mencegah
turunnya bagian terendah di dalam rongga panggul (Mansjoer, 2000).
Managemen
prolapsus tali pusat dengan segera adalah metode yang dapat mengurangi kompresi
pada tali pusat untuk mencegah kerusakan yang dapat terjadi pada sirkulasi
janin. Ini dapat dilakukan dengan perubahan posisi seperti memiringkan tubuh
sehingga kepala dan bahu lebih rendah dari pinggulnya, seperti pada posisi
trendelenburg atau posisi kneechest. Selain itu, bagian terendah dapat didorong
ke atas dengan tekanan dari tangan penolong yang menggunakan sarung tangn
steril dalam vagina. Tekanan ini perlu dipertahankan sampai persiapan
melahirkan janin selesai dilakukan (Siassokos, 2009).
J.
Asuhan
Keperawatan pada Persalinan dengan Prolaps Tali Pusat
1. Pengkajian
a. Identitas
klien
b.Riwayat
kehamilan (GPA)
c. Pemeriksaan
umum : kesadaran, tanda vital, keadaan umum.
d.
Pemeriksaan khusus :
1) Abdomen
:
a) Inspeksi
: Ada striae dan linea atau tidak, ada bekas luka operasi atau tidak.
b) Palpasi
: Tinggi fundus uteri, pemeriksaan leupold.
c) Auskultasi
: DJJ normal tidak.
2) Vulva
: Kebersihan vulva, fluor albus ada atau tidak.
3) Ekstremitas : ada varises atau tidak, edema
ada atau tidak.
4) Pemeriksaan vaginal toucher
5) Teraba
tali pusat pada daerah ostium uterus.
e. Aktivitas
atau istirahat
Melaporkan keletihan kurang energi letargi dan
penurunan penampilan.
f. Sirkulasi
Tekanan darah ibu meningkat, dapat terjadi hipoksia
pada janin karena kurangnya sirkulasi dari ibu ketali pusat.
g.Eliminasi
Distensi
usus dan kandung kemih mungkin ada
h.Integritas ego
Kontraksi
melemah, dengan intensitas lemah sampai sedang
i. Keamanan
1. Pemeriksaan vagina
dilakukan untuk menentukan posisi dari tali pusat
2. Kaji adanya kelainan
pada jalan lahir atau janin seperti panggul yang sempit, letak lintang,
letak sunsang, polihidramnion, janin
kembar, janin yang terlalu kecil
2.
Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan
pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah ke plasenta atau
melalui tali pusat (prolaps).
b. Cemas berhubungan
dengan situasi, ancaman yang dirasakan oleh ibu atau janin.
c. Resiko cedera terhadap janin berhubungan
dengan hipoksia janin dan abnormalitas
pelvis ibu.
d.
Resiko
infeksi berhubungan dengan prosedur invasif
e. Koping
individu tidak efektif berhubungan dengan komplikasi persalinan.
3.Intervensi Keperawatan
No
|
Diagnosa
|
Perencanaan
|
Rasional
|
|
Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
|||
1
|
Gangguan pertukaran gas
pada janin berhubungan dengan penurunan aliran darah, sekunder akibat
kompresi tali pusat
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24
jam, pertukaran gas klien normal dengan kriteria hasil:
Kemudahan bernapas (skala 5)
Keseimbangan perfusi ventilasi (skala 5)
Sianosis tidak terlihat (skala 5)
|
1.Perhatikan maturasi janin berdasarkan riwayat ibu dan
pengukuran uterus.
2.Lakukan manuver Leupold dan pemeriksaan vaginal steril,
perhatikan presentasi dan posisi janin.
3.Posisikan ibu telentang dengan bagian kepala ibu lebih
rendah dari panggul ibu yang dipotong dengan bantal.
4.Perhatikan pada ibu adanya faktor-faktor yang secara
negatif mempengaruhhi sirkulasi plasenta dan oksigenasi janin.
5.Lanjutkan pemantauan DJJ, perhatikan perubahan denyut
deselerasi selama dan setelah kontraksi.
6.Kaji reaksi DJJ terhadap kontraksi,perhatikan
beradikardi atau deselerasi lambat.
|
1.
Usia gestasi
janin, harus 36 minggu atau lebih untuk dilakukan induksi persalinan.
2.
Menentukan
kelainan pada letak janin apakah persentasi verteks, persentasi bokong dan
lain –lain.
3.
Membantu
mendapatkan strip pemantauan janin eksternal adekuat untuk mengevaluasi pola
kontraksi dan irama jantung janin.
4.
Penurunan volume
sirkulasi atau vasospasme dalam plasenta menurunkan ketersediaan oksigen
untuk janin.
5.
Distres janin
dapat terjadi karena hipoksia,mungkin dimanifestasikan dengan penurunan
viabilitas,daselerasi lambat,dan
takikardi yang diikuti dengan brakikadi.
6.
Pengkajian yang
tepat perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya hipiksia.Rentang normal DJJ
adalah 120 – 160 kali permenit.
|
2
|
Cemas berhubungan dengan situasi, ancaman
yang dirasakan oleh ibu atau janin.
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24
jam, takut klien hilang dengan kriteria hasil:
Rencanakan
strategi koping pada situasi ketakutan (skala 5)
Kontrol
respon ketakutan (skala 5)
Gunakan
strategi koping yang efektif (skala 5)
|
1. Diskusikan situasi dan pemahaman tentang situasi
dengan klien dan pasangan.
2. Pantau respon verbal dan non verbal klien/
pasangan.
3.
Libatkan
klien dalam perencanaan dan berpartisipasi dalam perawatan sebanyak mungkin.
4.
Dengarkan
masalah klien secara aktif.
5.
Jelaskan
setiap prosedur arti dari setiap gejala.
|
1.
Memberikan
informasi tentang reaksi individu terhadap apa yang terjadi
2.
Menjadi mampu
melakukan sesuatu untuk membantu mengontrol situasi, sehingga dapat
menurunkan rasa cemas.
3.
Memberi
kesempatan pada klien untuk menemukan solusi sendiri.
4.
Pengetahuan dapat
membantu menurunkan rasa cemas dan meningkatkan rasa kontrol terhadap
situasi.
|
3
|
Resiko cedera terhadap janin berhubungan
dengan hipoksia janin dan abnormalitas
pelvis ibu.
|
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 1 x 24 jam, cedera teratasi dengan kriteria hasil:
1.
Memar (skala 5)
2.
Mengenal tanda dan gejala yang menunjukkan resiko
3.
Identifikasi risiko kesehatan potensial (skala 5)
|
1.
Kaji DJJ secara
manual atau elektronik ,prhatikan variabilitas perubahan periodik dan
frekuensi dasar
2.
Perhatikan
tekanan uterus selama istirahat dan fase kontraksi melalui kateter tekanan
intrauterus bila tersedia.
3.
Identifikasi
faktor-faktor maternal seperti dehidrasi,asidosis,dan ansietas.
4.
Perhatikan
bau dan perubahan warna cairan aminion pada pecah ketuban lama.Dapatkan kultur bila temuan
obnormal.
|
1.
Untuk mendeteksi
respons abnormal seperti variabilitas yang dilebihkan bradikardi dan
takikardi yang mungkin di sebabkan oleh stres ,hipoksida,asidosis,atau
sepsis.
2.
Tekanan istirahat
lebih besar dari 30 mmHg atau tekanan kontraksi >50 mmHg menurunkan atau
menggangu oksigenasi
3.
Kadang kadang
prosedur sederhana meningkatkan sirkulasi darah juga oksigen ke uterus dan
plasenta serta dapat mencegah atau memperbaiki hipoksida janin .
4.
Infeksi asendens
dan spesis disertai dengan takikardi dapat tarjadi pada pada pecah ketuban
lama.
|
4
|
Resiko infeksi berhubungan dengan
prosedur invasif
|
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 1 x 24 jam, infeksi teratasi dengan kriteria hasil:
Mengetahui
risiko (skala 5)
Strategi
kontrol risiko secara efektif (skala 5)
Temprature jaringan IER (skala 5)
Melaporkan
penurunan durasi peristiwa ketakutan (skala 5)
|
1.
Lakukan
pemeriksaan vagina awal
2.
Gunakan
tekhnik aseptik selama pemeriksaan vagina.
3.
Pantau
dan gambarkan karakter cairan amniotik.
4.
Pantau
suhu, nadi, pernapasan dan sel darah putih sesuai indikasi.
|
1.
Pengulangan
pemeriksaan vagina berperan dalam infeksi saluran asendens.
2.
Membantu mencegah
pertumbuhan bakteri, membatasi kontaminasi dari pencapaian ke vagina.
3.
Pada infeksi,
cairan amniotik menjadi lebih kental dan kuning pekat dan bau dapat
dideteksi.
4.
Dalam 1 jam
setelah membran ruptur, insiden koriamnionitis meningkat secara progresif
sesuai waktu ditunjukan dengan peningkatan tanda- tanda vital dan leukosit.
|
5
|
Koping individu tidak efektif berhubungan dengan
komplikasi persalinan.
|
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 1 x 24 jam, klien mampu mengatasi komplikasi
persalinan dengan koping yang efektif, dengan kriteria hasil:
Mengembangkanstrategi
penurunan stress (skala 5)
Support
social (skala 5)
|
1.Bantu klien
mengidentifikasi kemungkinan yang dapat terjadi
2. Sediakan
informasi aktual tentang diagnosis
3.Hargai dan
diskusikan alternatif respon terhadap situasi
|
1.
Membantu pasien
untuk beradaptasi terhadap kemungkinan yang terjadi
2.
Memberikan
informasi dan dukungan untuk membuat keputusan terkait dengan perawatan
kesehatan
3.
Nilai dan
diskusikan respon alternatif terhadap situasi
|
4. Evaluasi
a.
Perukaran gas normal dan dapat bernapas
tanpa adanya kesulitan
b.
Ibu dapat mengontrol ketakutannya
c.
Ibu dapat mencegah terjdainya cedera pada
janin
d.
Infeksi dapat dicegah
e.
Ibu dapat menentukan koping yang efektif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar