ASKEP HERNIA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Hernia merupakan salah satu gangguan pada sistem pencernaan. Gangguan ini sering terjadi di perut dengan isi yang keluar berupa bagian usus. Hernia
selama ini lebih dikenal sebagai penyakit pria karena hanya kaum pria yang
mempunyai bagian khusus dalam rongga perut untuk mendukung fungsi alat
kelaminnya. Bagian hernia terdiri dari cincin, kantong, dan isi hernia itu
sendiri. Isi hernia yaitu usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus (omentum).
Bila ada bagian yang lemah dari lapisan otot dinding perut, maka usus dapat
keluar ke tempat yang tidak seharusnya, yakni bisa ke diafragma (batas antara
perut dan dada), bisa di lipatan paha, atau di pusar. Umumnya hernia tidak
menyebabkan nyeri. Namun, akan terasa nyeri bila isi hernia terjepit oleh
cincin hernia. Infeksi akibat hernia menyebabkan penderita merasakan nyeri yang
hebat, dan infeksi tersebut akhirnya menjalar dan meracuni seluruh tubuh. Jika
sudah terjadi keadaan seperti itu, maka harus segera ditangani oleh dokter
karena dapat mengancam nyawa penderita (Jong, 2004).
Hernia dapat terjadi pada semua umur, baik tua maupun muda. Pada anak-anak atau bayi, lebih sering disebabkan oleh kurangnya sempurnanya procesus
vaginalis untuk menutup
seiring dengan turunnya testis atau buah zakar. Biasanya yang sering terkena hernia adalah bayi atau anak laki-laki. Pada orang dewasa, hernia
terjadi karena adanya
tekanan yang tinggi dalam rongga perut dan kelemahan pada otot dinding perut karena faktor usia. Tekanan dalam perut yang meningkat dapat disebabkan oleh batuk yang kronik, susah buang air besar, adanya pembesaran prostat pada pria, serta yang sering mengangkut barang-barang berat
(Nurlaili, 2009).
Hernia
inguinalis termasuk hernia eksterna dan mempunyai angka kejadian yang paling
banyak dibanding dengan hernia yang lain. Kurang lebih 70% dari semua hernia
terjadi di regio inguinal, dimana 50% sebagai hernia inguinalis indirek dan 25%
sisanya adalah hernia inguinalis direk. Insiden hernia inguinalis pada bayi dan
anak antara 1-2%. Hernia inguinal indirek lebih banyak terjadi pada pria
daripada wanita. Perbandingan antara angka kejadian pada laki-laki dan
perempuan adalah 12:1. Di belahan dunia bagian barat, insiden hernia inguinalis
pada usia dewasa bervariasi
antara 10% - 15%. Insiden bervariasi antara 5%-8% pada usia 25-40 tahun. Pada
usia 75 tahun atau lebih, insiden hernia mencapai 45%. Insiden hernia meningkat
dengan bertambahnya umur karena meningkatnya penyakit yang meninggikan tekanan
intra abdomen dan jaringan penunjang berkurang kekuatannya (Syamsuhidayat &
Wim de Jong, 2005).
Hernia ingunalis
pada bayi dan anak sekitar 1-2 %, sisi kanan biasanya lebih sering (60 %)
dibanding sisi kiri (20 %) dan bilateral sebanyak 10-15%. Hernia inguinalis lateralis lebih sering
didapatkan dibagian kanan (60%). Hal ini disebabkan karena proses desensus dan
testis kanan lebih lambat dibandingkan dengan yang kiri. Hernia inguinalis yang isinya masuk
ke scrotum secara lengkap maka terjadi hernia scrotalis. Hernia ingunalis
lateralis hampir selalu disebabkan oleh peninggian tekanan intraabdominal dan
kelemahan otot dinding perut
(Sain, 2003).
Penyakit hernia
akan meningkat sesuai dengan penambahan umur. Hal tersebut dapat disebabkan
oleh melemahnya jaringan penyangga usus atau karena adanya penyakit yang
menyebabkan tekanan di dalam perut meningkat. Sebenarnya sudah banyak
masyarakat yang tahu tentang gejala awal penyakit hernia, namun seringkali
tidak menyadarinya. Pada awalnya, gejala yang dirasakan oleh penderita adalah
berupa keluhan benjolan di lipatan paha. Biasanya akan timbul bila berdiri, batuk, bersin, mengejan atau mengangkat
barang-barang berat. Benjolan dan keluhan nyeri itu akan hilang bila penderita
berbaring (Tim KMB, 2010). Dalam laporan ini akan membahas segala sesuatu tentang
penyakit hernia agar kita lebih paham dan mengerti tentang penyakit hernia.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Penyusunan
makalah ini, secara umum bertujuan untuk mengetahui konsep dasar penyakit hernia dan asuhan keperawatan yang dapat
ditegakkan pada klien.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus
penyusunan makalah ini adalah:
a.
Mengetahui definisi, etiologi, klasifikasi, patofisiologi, serta tanda dan tanda gejala hernia.
b.
Mengetahui
pemeriksaan
penunjang, terapi, dan
komplikasi hernia.
c.
Mengetahui pengkajian yang perlu dilakukan pada klien
dengan hernia.
d.
Mengidentifkasi
pathway keperawatan pada
klien dengan hernia.
e.
Mengetahui diagnosa yang mungkin muncul pada klien dengan hernia.
f.
Mengetahui
intervensi apa saja yang dapat diterapkan pada klien lansia dengan hernia.
BAB II
ISI
A. Definisi
Hernia
berasal dari
bahasa Latin, herniae yaitu menonjolnya isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis
yang lemah pada dinding rongga. Dinding rongga yang lemah itu membentuk
suatu kantong dengan pintu berupa cincin. Gangguan ini sering terjadi di daerah perut dengan isi yang keluar berupa bagian dari usus (Nettina,
2001).
Berdasarkan Tim KMB (2010), hernia adalah protusio (penonjolan) abnormal dari sebuah organ,
jaringan atau bagian dari sebuah organ yang keluar menembus struktur yang
secara normal menampungnya.
Gambar 1. Bentuk hernia
Sumber: http://dokterkecil.files.wordpress.com
B.
Etiologi
Hernia
dapat terjadi karena ada sebagian dinding rongga lemah (defek
dinding abdomen).
Lemahnya dinding ini mungkin merupakan cacat bawaan atau keadaan yang didapat
sesudah lahir. Contoh hernia bawaan adalah hernia omphalokel yang terjadi
karena sewaktu bayi lahir tali pusatnya tidak segera
berobliterasi (menutup) dan masih terbuka. Demikian pula hernia diafragmatika.
Pada manusia umur lanjut jaringan penyangga makin melemah, manusia umur lanjut
lebih cenderung menderita hernia inguinal direkta. Pekerjaan angkat berat yang
dilakukan dalam jangka lama juga dapat melemahkan dinding perut. Penyebab utama lainnya adalah adanya tekanan intra abdomen (Oswari, 2005).
C. Klasifikasi
Berdasarkan Rivta (2003), klasifikasi hernia berdasarkan
lokasi antara lain:
1.
Hernia hiatus adalah kondisi di mana
kerongkongan (pipa tenggorokan) turun, melewati diafragma melalui celah yang
disebut hiatus sehingga sebagian perut menonjol ke dada (toraks).
Gambar 2: Hernia hiatus
Sumber: Tim KMB (2010)
2. Hernia epigastrik terjadi
di antara pusar dan bagian bawah tulang rusuk di garis tengah perut. Hernia
epigastrik biasanya terdiri dari jaringan lemak dan jarang yang berisi usus.
Terbentuk di bagian dinding perut yang relatif lemah, hernia ini sering
menimbulkan rasa sakit dan tidak dapat didorong kembali ke dalam perut ketika
pertama kali ditemukan.
Gambar 4: Hernia epigastrik
Sumber: Tim KMB (2010)
3. Hernia umbilikal berkembang
di dalam dan sekitar umbilikus (pusar) yang disebabkan bukaan pada dinding
perut, yang biasanya menutup sebelum kelahiran, tidak menutup sepenuhnya. Jika
kecil (kurang dari satu centimeter), hernia jenis ini biasanya menutup secara
bertahap sebelum usia 2 tahun.
Gambar 5: Klasifikasi hernia
Sumber: Tim KMB (2010)
4. Hernia inguinalis adalah
hernia yang paling umum terjadi dan muncul sebagai tonjolan di selangkangan
atau skrotum. Orang awam biasa menyebutnya “turun bero” atau “hernia”. Hernia inguinalis
terjadi ketika dinding abdomen berkembang sehingga usus menerobos ke
bawah melalui celah. Hernia tipe ini lebih sering terjadi
pada laki-laki daripada perempuan.
5.
Hernia insisional dapat terjadi melalui luka pasca operasi perut. Hernia ini muncul sebagai
tonjolan di sekitar pusar yang terjadi ketika otot sekitar pusar tidak menutup
sepenuhnya.
Gambar 6: Klasifikasi hernia
Sumber: Tim KMB (2010)
6.
Hernia scrotalis adalah hernia inguinalis yang isinya masuk ke scrotum secara
lengkap.
Gambar 7: Hernia scrotalis
Sumber: Nurlaili (2009)
Selain itu, klasifikasi hernia menurut lokasi berdasarkan
Tim KMB (2010) antara lain:
1. Hernia
reponibel adalah bila isi hernia dapat keluar masuk. Isi hernis keluar jika
berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak
ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus.
2. Hernia
irreponibel adalah bila isi kantung hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam
rongga. Hal ini disebabkan karena perlekatan isi usus pada peritoneum kantong
hernia. Tidak ada keluhan nyeri atau tanda obstruksi usus.
Berdasarkan keadaan, hernia dibedakan atas:
1.
Hernia
inkarserata adalah bila isi kantong terperangkap, tidak dapat kembali kedalam
rongga perut disertai akibat yang berupa gangguan pasase atau vaskularisasi. Secara
klinis hernia inkarserata lebih dimaksudkan untuk hernia irreponibel.
2.
Hernia
strangulata adalah jika bagian usus yang mengalami hernia terpuntir atau
membengkak, dapat mengganggu aliran darah normal dan pergerakan otot serta
mungkin dapat menimbulkan penyumbatan usus dan kerusakan jaringan (Tim KMB, 2010).
D. Patofisiologi
1.
Adanya defek pada suatu dinding rongga menyebabkan
lubang pada rongga perut sehingga terjadi penonjolan. Tonjolan bisa muncul
sewaktu-waktu saat tekanan intra abdomen meningkat. Pada awalnya tonjolan ini
bisa masuk kembali setelah dibawa berbaring dan akan muncul lagi saat tekanan
intra abdomen meningkat. Semakin sering tonjolan itu muncul, semakin menjadi
besar ukurannya berarti makin lemah liang saluran di dinding perut dan semakin
banyak isi perut yang keluar dari dinding perut (Karnadihardja, 2004).
Lama kelamaan tonjolan yang semakin besar itu mungkin tidak bisa spontan
masuk dengan jari (hernia reponable), jika dibiarkan bisa saja terjadi
perlengketan di dalamnya bisa sampai ke tahapan tonjolan sudah tidak
dapat dimasukkan lagi (hernia irreponable). Usus dapat terpelintir dalam
kantong hernia maka terjadi penjepitan pada usus tadi (hernia inkarserata).
Bila isi hernia yang terjepit semakin membesar, lama kelamaan usus akan tercekik
lalu tak dapat aliran darah lagi. Kondisi terminal hernia inilah yang perlu
tindakan gawat darurat (hernia strangulata). Bila keadaan ini dibiarkan
jaringan usus akan membusuk, mati dan rusak lalu terjadi gawat darurat perut (acute
abdomen) (Karnadihardja, 2004).
2. Defek
pada dinding otot dapat bersifat kongenital karena kelemahan
jaringan atau ruas-ruas pada ligamen inguinal. Selain itu, dapat disebabkan
oleh trauma. Tekanan
intra-abdominal paling umum meningkat sebagai akibat dari kehamilan atau kegemukan.
Mengangkat berat juga menyebabkan peningkatan tekanan, seperti pada batuk dan
cedera traumatik karena tekanan tumpul. Bila dua faktor ini ada bersama dengan
kelemahan otot, individu akan mengalami hernia (Ester, 2002).
E. Faktor
Risiko
Faktor
risiko hernia adalah kelainan atau kondisi
yang membuat seseorang rentan terhadap serangan hernia. Berdasarkan Tim KMB (2010), faktor risiko hernia
antara lain:
1.
Faktor risiko yang tidak dapat di kontrol:
a. Kongenital
Kelemahan pada otot merupakan salah satu faktor risiko yang berhubungan
dengan faktor peningkatan tekanan intra abdomen.
Kelemahan otot abdomen juga dapat disebabkan karena pembedahan. Kelemahan otot
tidak dapat dicegah dengan cara olah raga atau latihan-latihan. Pada bayi dan anak dapat terjadi karena kelainan bawaan yaitu berupa tidak
menutupnya prosesus vaginalis peritonium sebagai akibat proses penurunan testis
ke skrotum.
b. Ibu Hamil
Pada ibu
hamil tekanan intra abdomen meningkat terutama pada daerah rahim dan
sekitarnya.
2.
Faktor risiko yang dapat dikontrol:
a.
Peningkatan tekanan intra abdomen seperti
pada batuk kronik, hipertropi prostat, konstipasi, asites atau seringnya
mengangkat beban yang berat.
b.
Obesitas
Obesitas salah satu penyebab peningkatan tekanan intra abdomen karena banyaknya lemak yang tersumbat dan perlahan-lahan mendorong peritoneum. Hal ini dapat dicegah dengan pengontrolan berat badan.
Obesitas salah satu penyebab peningkatan tekanan intra abdomen karena banyaknya lemak yang tersumbat dan perlahan-lahan mendorong peritoneum. Hal ini dapat dicegah dengan pengontrolan berat badan.
c.
Mengejan
Mengejan dapat menyebabkan peningkatan tekanan intra abdomen.
Mengejan dapat menyebabkan peningkatan tekanan intra abdomen.
F. Tanda
dan Gejala
Umumnya
pasien mengatakan adanya benjolan di selengkangan, kemaluan, benjolan tersebut biasa
mengecil atau menghilang pada waktu tidur, dan bila menangis mengejam atau
mengangkat benda berat atau bila posisi pasien berdiri dapat timbul kembali. Dapat
pula ditemukan rasa nyeri pada benjolan atau gejala muntah dan mual bila telah
ada komplikasi (Syamsuhidayat
& Wim de Jong, 2005).
G. Pemeriksaan
Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada pasien hernia berdasarkan Tim KMB (2010) adalah :
1. Lab darah : hematologi rutin, kreatinin, dan elektrolit
darah.
Hitung darah
lengkap dan serum elektrolit dapat menunjukkan hemokonsentrasi (peningkatan
hematokrit), peningkatan sel darah putih, dan ketidakseimbangan elektrolit.
2. Radiologi: foto abdomen dengan kontras barium, flouroskopi.
Biasanya tidak diperlukan pemeriksaan tambahan untuk menegakkan diagnosis
hernia. Namun pemeriksaan seperti ultrasonografi (USG), CT scan, maupun MRI
dapat dikerjakan guna melihat lebih lanjut keterlibatan organ-organ yang
“terperangkap” dalam kantung hernia tersebut. Pemeriksaan
laboratorium dapat dilakukan untuk kepentingan operasi.
I.
Terapi
1. Terapi Konservatif
Pada hernia reponibel dilakukan tekanan
secara terus-menerus pada benjolan seperti dengan bantal pasir, pasien tidur
pada posisi supine atau memakai korset.
2. Terapi Pembedahan
Dapat
dilakukan herniotomi dan hernioplasti
a.
Herniotomi
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya.
Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian
direposisi, kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong.
b.
Hernioplasti
Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus
dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis (Tim KMB, 2010).
J.
Komplikasi
Akibat dari hernia
berdasarkan Oswari (2005) dapat
menimbulkan komplikasi sebagai berikut :
- Terjadi perlengketan antara isi
hernia dengan dinding kantung hernia sehingga isi kantung hernia tidak
dapat dikembalikan lagi, keadaan ini disebut hernia ingunalis lateralis
ireponibins pada keadaan ini belum gangguan penyaluran isi usus, isi
hernia yang menyebabkan ireponibilis adalah omentum, karena mudah melekat
pada dinding hernia.
- Terjadi tekanan
terhadap cincin hernia, akibat makin benyaknya usus yang masuk cincin
hernia relatif semakin sempit dan menimbulkan gangguan isi perut, ini
dsebut hernia inguinalis lateralis inkarserata.
- Bila hernia dibiarkan maka akan
timbul edema dan terjadi penekanan pembuluh darah sehingga terjadi
nekrosis keadaan ini disebut hernia ingunalis lateralis stranggulasi,
terjadi karena usus berputar (melintar) pada keadaan inkarserasi dan
stranggulasi maka timbul gejala illeusmuntah, kembung dan obstipasi pada
stranggulasi nyeri hebat daerah tonjolan menjadi lebih merah dan penderita
sangat gelisah.
K.
Pengkajian
Menurut Doengoes Marilyn E (2000), pengkajian adalah pendekatan
sistematis untuk mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan
fisik, pemeriksaan labolatorium dan diagnostic serta review catatan sebelumnya.
1.
Identitas
Identitas klien mencakup nama, umur, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan, suku/ bangsa, nomor medic, status, diagnose medis,
tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian dan alamat.
2.
Keluhan Utama
Keluhan utama merupakan keluhan klien yang bersifat subyektif
pada saat dikaji. Biasanya keluhan utama yang dirasakan nyeri pada benjolan
atau gejala muntah bila telah ada komplikasi.
3.
Riwayat Kesehatan Sekarang
Bagian ini menguraikan keluhan utama yang muncul secara kronologis
meliputi faktor yang mencetuskan memperingan gejala, kualitas , lokasi/
penyebaran, upaya yang dilakukan serta waktu dirasakannya keluhan, durasi bila
klien berjalan, bersin, batuk atau napas dalam.
4.
Riwayat Kesehatan Dahulu
Pada tahap ini dikaji mengenai
latar belakang kehidupan klien sebelum masuk rumah sakit yang menjadi factor
predisposisi seperti riwayat bekerja mengangkat benda- benda berat, tanyakan
juga tentang riwayat penyakit keturunan.
5.
Riwayat Keluarga
Pada tahap ini dikaji tentang riwayat kesehatan keluarga,
adakah dalam keluarga yang mengalami penyakit sama dengan klien saat ini dan
atau riwayat penyakit keturunan.
Adapun
data-data yang menjadi data fokus dari hernia adalah sebagai berikut:
1.
Aktivitas/istirahat
Gejala :
Kelemahan, riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat berat, tidak mampu melakukan
aktivitas yang biasdanya dilakukan.
Tanda : Gangguan
dalam berjalan, kelemahan ambulasi
2.
Eliminasi
Gejala :
Konstipasi, tidak dapat flaktus
Tanda : Adanya
retensi urine atau inkontinensia urine
3.
Makanan/cairan
Gejala :
Hilangnya nafsu makan, mual, muntah
Tanda : BB
turun, dehidrasi, lemas otot
4. Nyeri/kenyamanan
Gejala : Nyeri
tekan pada kwadran bawah, semakin memburuk dengan adanya batuk, bersin,
mengangkat benda berat, defekasi, nyeri tak ada hentinya/ada episode nyeri yang
lebih berat secara intermiten.
Tanda :
Perubahan cara berjalan, nyeri tekan abdomen
5. Keamanan
Gejala :
Peningkatan suhu 39.6 - 400C
(Doengoes Marilyn E,
2000)
Selain itu
dilakukan pemeriksaan fisik berdasarkan Tim KMB (2010) meliputi:
1.
Inspeksi
Mengkaji tingkat kesadaran, perhatikan adanya bengkak; ada atau tidak adanya benjolan
Mengkaji tingkat kesadaran, perhatikan adanya bengkak; ada atau tidak adanya benjolan
2.
Palpasi
Tugor kulit, palpasi terhadap nyeri dan massa
Tugor kulit, palpasi terhadap nyeri dan massa
3.
Auskultasi
Bising usus, bunyi nafas, bunyi jantung
Bising usus, bunyi nafas, bunyi jantung
4. Perkusi
Kembung
Kembung
Adapun
data-data yang harus dikaji pasca operasi hernioraphy adalah sebagai
berikut :
1.
Sistem pernafasan.
Potensi jalan
nafas, perubahan pernafasan (rata-rata, pola dan kedalaman), RR < 10
x/menit, auskultasi paru: keadekuatan ekspansi paru, kesimetrisan. Inspeksi:
pergerakan dinding dada, penggunaan otot bantu pernafasan diafragma, retraksi
sternal, thorax drain.
2.
Sistem kardiovaskuler.
Sirkulasi darah,
nadi dan suara jantung dikaji tiap 15 menit (4x), 30 menit (4x), 2 jam (4x) dan
setiap 4 jam selama 2 hari jika kondisi stabil. Kaji sirkulasi perifer
(kualitas denyut, warna, temperature, dan ukuran ekstremitas).
3.
Keseimbangan cairan dan elektrolit
Inspeksi
membrane mukosa (warna dan kelembaban, turgor kulit, balutan), kaji
intake/output, monitor cairan intravena dan tekanan darah.
4.
Sistem persarafan.
Kaji fungsi
serebral dan tingkat kesadaran, kekuatan otot, koordinasi.
5.
Sistem perkemihan.
Kontrol volunter fungsi perkemihan kembali setelah 6 - 8 jam
pasca anesthesia, retensio urine, Dower
catheter bila terpasang (kaji warna, jumlah urine, output urine < 30 ml/jam)
6.
Sistem gastrointestinal.
Mual muntah,
kaji fungsi gastrointestinal dengan auskultasi suara usus, kaji palitik ileus,
Insersi NG tube intra operatif dengan drainage lambung (untuk memonitor
perdarahan, mencegah obstruksi usus, irigasi atau pemberian obat, jumlah,
warna, konsistensi isi lambung tiap 6- 8 jam).
7.
Sistem integumen.
Kaji faktor
infeksi luka, diostensi dari odema/palitik illeus, tekanan pada daerah luka,
dehiscence, eviscerasi.
8.
Balutan.
Semua balutan
dan drain dikaji setiap 15 menit pada saat diruang post anesthesia recovery
meliputi jumlah, warna, konsistensi, dan bau cairan drain dan tanggal
observasi.
9.
Pengkajian nyeri.
Nyeri post operatif berhubungan dengan luka
bedah. Kaji tanda fisik dan emosi (peningkatan nadi dan tekanan darah,
hypertensi, diaphoresis, gelisah, menangis), kaji kualitas nyeri sebelum dan
setelah pemberian analgetik (Doengoes Marilyn E,
2000).
L.
Tekanan intra abdomen
|
Kelemahan
otot abdomen karena usia atau kongenital
|
Kehamilan, batuk, mengejan
|
Peregangan
rongga dinding
|
Herniasi
|
Cincin
hernia
|
Hernia
|
Penekanan
pembuluh darah
|
Strangulasi
|
Penekanan
|
Nyeri akut
|
Gangguan
penyaluran isi (usus)
|
Makanan
tidak dapat diabsorpsi
|
Lama
tersimpan simpul
|
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan
|
Pembedahan
|
Terputusnya
kontinuitas jaringan lunak
|
Proses
penyembuhan
|
Peningkatan
metabolisme
|
Kebutuhan
nutrisi
|
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan
|
Keterbatasan
gerak
|
Hipoperistaltik
usus
|
Konstipasi
|
Kurang perawatan
diri dan Intoleransi aktivitas
|
Detruksi
pertahanan
|
Porte de entry
|
Masuknya
mikroorganisme
|
Risiko infeksi
|
Cemas
|
Luka pembedahan
|
Nyeri akut
|
Hernioplasti
|
Herniotomi
|
M.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan pada klien
dengan hernia berdasarkan NANDA (2010) adalah:
1.
Nyeri akut berhubungan dengan penekakanan dan
luka bedah
2.
Cemas berhubungan dengan tindakan operasi
3.
Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan memasukkan dan mencerna
4.
Konstipasi berhubungan dengan hipoperistaltik usus
5.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
6.
Resiko infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan
N.
Rencana Asuhan Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan serebral
Tujuan: Klien dapat mengontrol nyeri
Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
a. Tingkat kenyamanan
b. Perilaku mengendalikan nyeri
c. Tingkat nyeri
Kriteria
evaluasi:
a. Menunjukkan teknik relaksasi secara
individual
b. Mempertahankan tingkat nyeri (skala 0-10)
c. Mengenali faktor penyebab dan menggunakan
tindakan untuk mencegah nyeri/
d. Menggunakan tindakan mengurangi nyeri dengan
pemberian analgesik dan nonanalgesik secara tepat
|
a.
Pemberian
analgesik
b.
Sedasi
sadar
c.
Penatalaksanaan
nyeri
Aktivitas
keperawatan:
a.
Gunakan
informasi dari klien untuk mengumpulkan informasi
b.
Ukur
skala nyeri klien untuk menilai nyeri (skala 0-10)
c.
Gunakan
kata-kata sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan klien.
d.
Lakukan
pengkajian nyeri berdasarkan letak, karakteristik,
durasi, frekuensi dan kualitas nyeri.
e.
Observasi
isyarat ketidaknyamanan nonverbal.
f.
Kolaborasi
pemberian analgesik
|
a. Menyediakan data dasar untuk memantau perubahan dan
mengevaluasi intervensi.
b.Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sehingga
dapat membantu menentukan intervensi yang tepat.
c. Memberikan dukungan dan menurunkan
ketegangan otot.
d.
Meningkatkan relaksasi
e. Menfokuskan
ulang perhatian
f. Menurunkan nyeri dengan pemeberian analgesik
|
2. Cemas
berhubungan dengan perubahan kesehatan atau ancaman kematian Tujuan: ansietas
klien berkurang
Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
a. Control
ansietas
b. Koping
c. Control
impuls
d. Keterampilan interaksi sosial
|
a.
Kaji
dan dokumentasi tingkat kecemasan
b.
Menetukan
kemampuan pengambilan keputusan pada klien
c.
Sediakan
informasi aktual menyangkut diagnosa, perawatan, dan prognosis
d.
Intruksikan
klien tentang teknik relaksasi
e.
Berikan
pengobatan untuk mengurangi ansietas, sesuai dengan kebutuhan
|
a.
Mengetahui sejauh mana kecemasan tersebut mengganggu klien
b.
Ungkapan perasaan dapat memberikan rasa lega sehingga
mengurangi kecemasan
c.
Pengetahuan klien sehingga klien tahu dan mengerti tentang
penyakitnya
d.
Menciptakan ketenangan batin sehingga kecemasan dapat
berkurang
e.
Dengan mendengarkan keluahan klien secara empati maka klien
akan merasa diperhatikan
|
Kriteria evaluasi:
a.
Ansietas
berkurang
b.
Menunjukkan
kontrol ansietas
c.
Mempertahankan
penampilan peran
d.
Mengidentifikasi
gejala yang merupakan indikator ansietas klien sendiri
e.
Tidak
menunjukkan perilaku agresif
|
||
3. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan memasukkan dan mencerna
Tujuan: Pemulihan fungsi usus yang normal
Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
a.
Nutritional
status: food nad fluid
b.
Nutrient
intake
c.
Weight control
|
a.
Kaji
status nutrisi klien (tekstur kulit, rambut, konjungtiva).
b.
Jelaskan pada klien tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh
c.
Timbang berat badan dan tinggi badan
Kaji adanya alergi makanan
2. Berikan substansi gula sesuai kebutuhan
4. Berikan makanan yang terpilih( sudah
dikonsultasikan dengan ahli gizi)
5. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan
makanan harian
|
menentukan
dan membantu dalam intervensi selanjutnya
peningkatan
pengetahuan klien dapat menaikan partisipasi bagi klien dalam asuhan
keperawatan
Penurunan
berat badan yang signifikan merupakan indikator kurangnya nutrisi
Untuk mengetahui apakah pasien ada alergi makanan
substansi gula dapat meningkatkan energi pasien
ntuk memenuhi status gizi pasien
Catatan harian makanan dapat mengetahui asupan
nutrisi pasien
|
Kriteria evaluasi:
d.
Keadaan
umum baik mukosa bibir lembab
e.
Nafsu
makan baik, tekstur kulit baik
f.
Berat
badan dalam batas normal.
|
||
4. Konstipasi berhubungan
dengan penurunan hipoperistaltik usus
Tujuan: Pemulihan fungsi usus yang normal
Kriteria Hasil
|
Intervensi Keperawatan
|
Rasional
|
a. Mencapai pemulihan kepada fungsi usus yang
normal
|
a.
Dorong
peningkatan asupan cairan dalam batas-batas retriksi cairan
|
a. Meminimalkan kehilangan panas
|
b. Melaporkan fungsi usus yang normal
|
b.
Berikan
makanan yang kaya akan serat
|
b. Meningkatkan massa feses dan frekuensi
buang air besar
|
c. Mengenali dan mengkonsurasi makanan yang
kaya serat
|
c.
Ajarkan
pada pasien tentang jenis-jenis makanan yang banyak mengandung air
|
c. Memberikan rasional peningkatan asupan
cairan kepada pasien
|
d. Berpartisipasi dalam peningkatan latihan
yang ditingkatkan secara bertahap
|
d.
Dorong
pasien untuk meningkatkan mobilitas dalam batas-batas toleransi latihan
|
d. Meningkatkan evakuasi usus
|
e.
Menggunakan
pencahar seperti yang diresepkan dan menghindari ketergantungan yang
berlebihan pada pencahar serta enema
|
e.
Dorong
pasien untuk menggunakan pencahar dan enema hanya bila diperlukan saja
|
e. Meminimalkan ketergantungan pasien pada
pencahar serta enema dan mendorong pola evakuasi usus yang normal
|
5.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
Tujuan: Meningkatkan partisipasi dalam aktivitas dan kemandirian
Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
a.
Klien
mampu mengidentifikasi aktivitas dan situasi yang menimbulkan kecemasanyang
berkonstribusi pada intoleransi aktivitas.
b.
Klien
mampu berpartisipasi dalam perawatan diri tanpa bantuan atau dengan bantuan
minimal tanpa menunjukkan kelelahan
|
Managemen Energi
a.
Tentukan
penyebab keletihan: nyeri, aktivitas, perawatan , pengobatan
b.
Evaluasi motivasi dan keinginan klien untuk meningkatkan aktivitas.
c.
Monitor
asupan nutrisi untuk memastikan ke adekuatan sumber energi.
d.
Letakkan benda-benda
yang sering digunakan pada tempat yang mudah dijangkau
e.
Bantu klien melakukan ambulasi yang dapat ditoleransi.
f.
Rencanakan jadwal antara aktivitas dan istirahat.
|
a.
Sumber
penyebab keletihan dapat mengidentifikasi penyebab keletihan
b.
Motivasi
dapat memberikan dorongan melakukan aktivitas
c.
Nutrisi yang
seimbang memebrikan energi untuk melakuakan aktivitas
d.
Benda-benda
yang letaknya dekat mempermudah jangkauan klien
e.
Ambulasi
melatih kemandirian klien
f.
Aktivitas dan
istirahat yang direncanakan akan menyesuaikan kemampuan klien
|
6.
Resiko infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan
Tujuan:
Tidak menampilkan gejala infeksi
Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
a. Individu akan
mendemonstrasikan pengetahuan tentang faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan
pontensial terhadap infeksi
b. Individu akan
melaksanakan tindakan pencegahan yang sesuai untuk mencegah infeksi.
|
a. Pertahankan
tehnik isolasi
b. Batasi pengunjung
bila perlu
c. Instruksikan pada
pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung
d. Pertahankan
lingkungan aseptic selama pemasangan alat
e. Tingkatkan intake
nutrisi
f. Berikan terapi
antibiotik bila perlu
|
a.
Untuk mencegah terjadinya infeksi
b.
Untuk mengurangi resiko infeksi dari pengunjung
c.
Untuk mencegah penyebaran pathogen terhadap pengunjung
d.
Untuk mengurangi penyebaran pathogen
e.
Untuk mempertahankan asupan nutrisi klien
f.
Antibiotik sebagai pelindung tubuh untuk menolak
pathogen yang merugikan bagi tubuh
|
Sumber: NIC, NOC, Doenges (2000)
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa hernia merupakan protusio (penonjolan)
abnormal dari sebuah organ, jaringan atau bagian dari sebuah organ yang keluar
menembus struktur yang secara normal menampungnya. Dua faktor utama
penyebab hernia yaitu defek
dalam integritas dinding otot dan peningkatan tekanan intra-abdomen. Kelemahan
otot yang bersifat kongenital adalah faktor utama yang berkombinasi dengan
faktor-faktor lain yang meningkatkan tekanan intra-abdomen.
Umumnya penderita mengalami benjolan
yang bersifat temporer yang dapat mengecil dan menghilang yang disebabkan oleh
keluarnya suatu organ sehingga dapat menimbulkan rasa nyeri, kadang-kadang
disertai mual dan muntah.
Pengkajian
klien dengan hernia dilakukan sebelum tindakan peioperatif maupun setelah
dilakukan tindakan perioperatif. Diagnosa keperawatan yang muncul pada klien
dengan hernia meliputi nyeri akut berhubungan dengan penekakanan dan luka bedah, cemas berhubungan dengan tindakan operasi, ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan memasukkan dan mencerna, konstipasi berhubungan dengan hipoperistaltik
usus, intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, dan resiko infeksi berhubungan dengan insisi
pembedahan. Intervensi dilakukan sesuai dengan respon klien.
B.
Saran
Saran yang yang dapat
diajukan oleh penulis sebaiknya pada pasien hernia menghindari
faktor risko pada hernia misalnya sering mengejan dan mengangkat beban berat.
Selain itu, pada
pemberian asuhan keperawatan klien dengan hernia tidak hanya memperhatikan
faktor fisiologis saja tetapi faktor psikologi juga harus diperhatikan karena keperawatan bersifat holistik. Pemberian asuhan keperawatan klien dengan hernia
sesuai dengan respon klien. Tindakan keperawatan yang dapat diberikan tidak
hanya melalui terapi farmakologis saja tetapi terapi non farmakologis yang
sesuai dengan kompetensi perawat.