Senin, 04 Juni 2012



ASKEP HERNIA 

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Hernia merupakan salah satu gangguan pada sistem pencernaan. Gangguan ini sering terjadi di perut dengan isi yang keluar berupa bagian usus. Hernia selama ini lebih dikenal sebagai penyakit pria karena hanya kaum pria yang mempunyai bagian khusus dalam rongga perut untuk mendukung fungsi alat kelaminnya. Bagian hernia terdiri dari cincin, kantong, dan isi hernia itu sendiri. Isi hernia yaitu usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus (omentum). Bila ada bagian yang lemah dari lapisan otot dinding perut, maka usus dapat keluar ke tempat yang tidak seharusnya, yakni bisa ke diafragma (batas antara perut dan dada), bisa di lipatan paha, atau di pusar. Umumnya hernia tidak menyebabkan nyeri. Namun, akan terasa nyeri bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia. Infeksi akibat hernia menyebabkan penderita merasakan nyeri yang hebat, dan infeksi tersebut akhirnya menjalar dan meracuni seluruh tubuh. Jika sudah terjadi keadaan seperti itu, maka harus segera ditangani oleh dokter karena dapat mengancam nyawa penderita (Jong, 2004).
Hernia dapat terjadi pada semua umur, baik tua maupun muda. Pada anak-anak atau bayi, lebih sering disebabkan oleh kurangnya sempurnanya procesus vaginalis untuk menutup seiring dengan turunnya testis atau buah zakar. Biasanya yang sering terkena hernia adalah bayi atau anak laki-laki. Pada orang dewasa, hernia terjadi karena adanya tekanan yang tinggi dalam rongga perut dan kelemahan pada otot dinding perut karena faktor usia. Tekanan dalam perut yang meningkat dapat disebabkan oleh batuk yang kronik, susah buang air besar, adanya pembesaran prostat pada pria, serta yang sering mengangkut barang-barang berat (Nurlaili, 2009).
Hernia inguinalis termasuk hernia eksterna dan mempunyai angka kejadian yang paling banyak dibanding dengan hernia yang lain. Kurang lebih 70% dari semua hernia terjadi di regio inguinal, dimana 50% sebagai hernia inguinalis indirek dan 25% sisanya adalah hernia inguinalis direk. Insiden hernia inguinalis pada bayi dan anak antara 1-2%. Hernia inguinal indirek lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita. Perbandingan antara angka kejadian pada laki-laki dan perempuan adalah 12:1. Di belahan dunia bagian barat, insiden hernia inguinalis pada usia dewasa bervariasi antara 10% - 15%. Insiden bervariasi antara 5%-8% pada usia 25-40 tahun. Pada usia 75 tahun atau lebih, insiden hernia mencapai 45%. Insiden hernia meningkat dengan bertambahnya umur karena meningkatnya penyakit yang meninggikan tekanan intra abdomen dan jaringan penunjang berkurang kekuatannya (Syamsuhidayat & Wim de Jong, 2005).
Hernia ingunalis pada bayi dan anak sekitar 1-2 %, sisi kanan biasanya lebih sering (60 %) dibanding sisi kiri (20 %) dan bilateral sebanyak 10-15%. Hernia inguinalis lateralis lebih sering didapatkan dibagian kanan (60%). Hal ini disebabkan karena proses desensus dan testis kanan lebih lambat dibandingkan dengan yang kiri. Hernia inguinalis yang isinya masuk ke scrotum secara lengkap maka terjadi hernia scrotalis. Hernia ingunalis lateralis hampir selalu disebabkan oleh peninggian tekanan intraabdominal dan kelemahan otot dinding perut (Sain, 2003).
Penyakit hernia akan meningkat sesuai dengan penambahan umur. Hal tersebut dapat disebabkan oleh melemahnya jaringan penyangga usus atau karena adanya penyakit yang menyebabkan tekanan di dalam perut meningkat. Sebenarnya sudah banyak masyarakat yang tahu tentang gejala awal penyakit hernia, namun seringkali tidak menyadarinya. Pada awalnya, gejala yang dirasakan oleh penderita adalah berupa keluhan benjolan di lipatan paha. Biasanya akan timbul bila berdiri, batuk, bersin, mengejan atau mengangkat barang-barang berat. Benjolan dan keluhan nyeri itu akan hilang bila penderita berbaring (Tim KMB, 2010). Dalam laporan ini akan membahas segala sesuatu tentang penyakit hernia agar kita lebih paham dan mengerti tentang penyakit hernia.

B.  Tujuan
1.    Tujuan Umum
Penyusunan makalah ini, secara umum bertujuan untuk mengetahui konsep dasar penyakit hernia dan asuhan keperawatan yang dapat ditegakkan pada klien.
2.    Tujuan Khusus
Tujuan khusus penyusunan makalah ini adalah:
a.    Mengetahui definisi, etiologi, klasifikasi, patofisiologi, serta tanda dan tanda gejala hernia.
b.    Mengetahui pemeriksaan penunjang, terapi, dan komplikasi hernia.
c.    Mengetahui pengkajian yang perlu dilakukan pada klien dengan hernia.
d.   Mengidentifkasi pathway keperawatan pada klien dengan hernia.
e.    Mengetahui diagnosa yang mungkin muncul pada klien dengan hernia.
f.     Mengetahui intervensi apa saja yang dapat diterapkan pada klien lansia dengan hernia.


BAB II
ISI
A.  Definisi
Hernia berasal dari bahasa Latin, herniae yaitu menonjolnya isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding rongga. Dinding rongga yang lemah itu membentuk suatu kantong dengan pintu berupa cincin. Gangguan ini sering terjadi di daerah perut dengan isi yang keluar berupa bagian dari usus (Nettina, 2001). Berdasarkan Tim KMB (2010), hernia adalah protusio (penonjolan) abnormal dari sebuah organ, jaringan atau bagian dari sebuah organ yang keluar menembus struktur yang secara normal menampungnya.
Gambar 1. Bentuk hernia
Sumber: http://dokterkecil.files.wordpress.com

B.  Etiologi
Hernia dapat terjadi karena ada sebagian dinding rongga lemah (defek dinding abdomen). Lemahnya dinding ini mungkin merupakan cacat bawaan atau keadaan yang didapat sesudah lahir. Contoh hernia bawaan adalah hernia omphalokel yang terjadi karena sewaktu bayi lahir tali pusatnya tidak segera berobliterasi (menutup) dan masih terbuka. Demikian pula hernia diafragmatika. Pada manusia umur lanjut jaringan penyangga makin melemah, manusia umur lanjut lebih cenderung menderita hernia inguinal direkta. Pekerjaan angkat berat yang dilakukan dalam jangka lama juga dapat melemahkan dinding perut. Penyebab utama lainnya adalah adanya tekanan intra abdomen (Oswari, 2005).
C.  Klasifikasi
Berdasarkan Rivta (2003), klasifikasi hernia berdasarkan lokasi antara lain:
1.    Hernia hiatus adalah kondisi di mana kerongkongan (pipa tenggorokan) turun, melewati diafragma melalui celah yang disebut hiatus sehingga sebagian perut menonjol ke dada (toraks).
Gambar 2: Hernia hiatus
Sumber: Tim KMB (2010)
2.    Hernia epigastrik terjadi di antara pusar dan bagian bawah tulang rusuk di garis tengah perut. Hernia epigastrik biasanya terdiri dari jaringan lemak dan jarang yang berisi usus. Terbentuk di bagian dinding perut yang relatif lemah, hernia ini sering menimbulkan rasa sakit dan tidak dapat didorong kembali ke dalam perut ketika pertama kali ditemukan.
Gambar 4: Hernia epigastrik
Sumber: Tim KMB (2010)

3.    Hernia umbilikal berkembang di dalam dan sekitar umbilikus (pusar) yang disebabkan bukaan pada dinding perut, yang biasanya menutup sebelum kelahiran, tidak menutup sepenuhnya. Jika kecil (kurang dari satu centimeter), hernia jenis ini biasanya menutup secara bertahap sebelum usia 2 tahun.
Gambar 5: Klasifikasi hernia
Sumber: Tim KMB (2010)
4.    Hernia inguinalis adalah hernia yang paling umum terjadi dan muncul sebagai tonjolan di selangkangan atau skrotum. Orang awam biasa menyebutnya “turun bero” atau “hernia”. Hernia inguinalis terjadi ketika dinding abdomen berkembang sehingga usus menerobos ke bawah melalui celah. Hernia tipe ini lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan.
5.    Hernia insisional dapat terjadi melalui luka pasca operasi perut. Hernia ini muncul sebagai tonjolan di sekitar pusar yang terjadi ketika otot sekitar pusar tidak menutup sepenuhnya.
Gambar 6: Klasifikasi hernia
Sumber: Tim KMB (2010)
6.    Hernia scrotalis adalah hernia inguinalis yang isinya masuk ke scrotum secara lengkap.
Gambar 7: Hernia scrotalis
Sumber: Nurlaili (2009)

Selain itu, klasifikasi hernia menurut lokasi berdasarkan Tim KMB (2010) antara lain:
1.    Hernia reponibel adalah bila isi hernia dapat keluar masuk. Isi hernis keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus.
2.    Hernia irreponibel adalah bila isi kantung hernia tidak dapat dikembalikan ke dalam rongga. Hal ini disebabkan karena perlekatan isi usus pada peritoneum kantong hernia. Tidak ada keluhan nyeri atau tanda obstruksi usus.
Berdasarkan keadaan, hernia dibedakan atas:
1.    Hernia inkarserata adalah bila isi kantong terperangkap, tidak dapat kembali kedalam rongga perut disertai akibat yang berupa gangguan pasase atau vaskularisasi. Secara klinis hernia inkarserata lebih dimaksudkan untuk hernia irreponibel.
2.    Hernia strangulata adalah jika bagian usus yang mengalami hernia terpuntir atau membengkak, dapat mengganggu aliran darah normal dan pergerakan otot serta mungkin dapat menimbulkan penyumbatan usus dan kerusakan jaringan (Tim KMB, 2010).
D.  Patofisiologi
1.    Adanya defek pada suatu dinding rongga menyebabkan lubang pada rongga perut sehingga terjadi penonjolan. Tonjolan bisa muncul sewaktu-waktu saat tekanan intra abdomen meningkat. Pada awalnya tonjolan ini bisa masuk kembali setelah dibawa berbaring dan akan muncul lagi saat tekanan intra abdomen meningkat. Semakin sering tonjolan itu muncul, semakin menjadi besar ukurannya berarti makin lemah liang saluran di dinding perut dan semakin banyak isi perut yang keluar dari dinding perut (Karnadihardja, 2004)
Lama kelamaan tonjolan yang semakin besar itu mungkin tidak bisa spontan masuk dengan jari (hernia reponable), jika dibiarkan bisa saja terjadi perlengketan di dalamnya bisa sampai ke tahapan  tonjolan sudah tidak dapat dimasukkan lagi (hernia irreponable). Usus dapat terpelintir dalam kantong hernia maka terjadi penjepitan pada usus tadi (hernia inkarserata). Bila isi hernia yang terjepit semakin membesar, lama kelamaan usus akan tercekik lalu tak dapat aliran darah lagi. Kondisi terminal hernia inilah yang perlu tindakan gawat darurat (hernia strangulata). Bila keadaan ini dibiarkan jaringan usus akan membusuk, mati dan rusak lalu terjadi gawat darurat perut (acute abdomen) (Karnadihardja, 2004).
2. Defek pada dinding otot dapat bersifat kongenital karena kelemahan jaringan atau ruas-ruas pada ligamen inguinal. Selain itu, dapat disebabkan oleh trauma. Tekanan intra-abdominal paling umum meningkat sebagai akibat dari kehamilan atau kegemukan. Mengangkat berat juga menyebabkan peningkatan tekanan, seperti pada batuk dan cedera traumatik karena tekanan tumpul. Bila dua faktor ini ada bersama dengan kelemahan otot, individu akan mengalami hernia (Ester, 2002).

E.  Faktor Risiko
Faktor risiko hernia adalah kelainan atau kondisi yang membuat seseorang rentan terhadap serangan hernia. Berdasarkan Tim KMB (2010), faktor risiko hernia antara lain:
1.    Faktor risiko yang tidak dapat di kontrol:
a.    Kongenital
Kelemahan pada otot merupakan salah satu faktor risiko yang berhubungan dengan faktor peningkatan tekanan intra abdomen. Kelemahan otot abdomen juga dapat disebabkan karena pembedahan. Kelemahan otot tidak dapat dicegah dengan cara olah raga atau latihan-latihan. Pada bayi dan anak dapat terjadi karena kelainan bawaan yaitu berupa tidak menutupnya prosesus vaginalis peritonium sebagai akibat proses penurunan testis ke skrotum.
b.    Ibu Hamil
Pada ibu hamil tekanan intra abdomen meningkat terutama pada daerah rahim dan sekitarnya.
2.    Faktor risiko yang dapat dikontrol:
a.    Peningkatan tekanan intra abdomen seperti pada batuk kronik, hipertropi prostat, konstipasi, asites atau seringnya mengangkat beban yang berat.
b.    Obesitas
Obesitas salah satu penyebab peningkatan tekanan intra abdomen karena banyaknya lemak yang tersumbat dan perlahan-lahan mendorong peritoneum.
Hal ini dapat dicegah dengan pengontrolan berat badan.
c.    Mengejan
Menge
jan dapat menyebabkan peningkatan tekanan intra abdomen.
F.   Tanda dan Gejala
Umumnya pasien mengatakan adanya benjolan di selengkangan, kemaluan, benjolan tersebut biasa mengecil atau menghilang pada waktu tidur, dan bila menangis mengejam atau mengangkat benda berat atau bila posisi pasien berdiri dapat timbul kembali. Dapat pula ditemukan rasa nyeri pada benjolan atau gejala muntah dan mual bila telah ada komplikasi (Syamsuhidayat & Wim de Jong, 2005).
G.  Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada pasien hernia berdasarkan Tim KMB (2010)  adalah :
1.    Lab darah : hematologi rutin, kreatinin, dan elektrolit darah.
Hitung darah lengkap dan serum elektrolit dapat menunjukkan hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit), peningkatan sel darah putih, dan ketidakseimbangan elektrolit.
2.    Radiologi: foto abdomen dengan kontras barium, flouroskopi. Biasanya tidak diperlukan pemeriksaan tambahan untuk menegakkan diagnosis hernia. Namun pemeriksaan seperti ultrasonografi (USG), CT scan, maupun MRI dapat dikerjakan guna melihat lebih lanjut keterlibatan organ-organ yang “terperangkap” dalam kantung hernia tersebut. Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan untuk kepentingan operasi.

I.     Terapi
1.    Terapi Konservatif 
Pada hernia reponibel dilakukan tekanan secara terus-menerus pada benjolan seperti dengan bantal pasir, pasien tidur pada posisi supine atau memakai korset.
2.    Terapi Pembedahan
Dapat dilakukan herniotomi dan hernioplasti
a.    Herniotomi
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya. Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong.
b.    Hernioplasti
Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis (Tim KMB, 2010).

J.    Komplikasi
Akibat dari hernia berdasarkan Oswari (2005) dapat menimbulkan komplikasi sebagai berikut :
  1. Terjadi perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantung hernia sehingga isi kantung hernia tidak dapat dikembalikan lagi, keadaan ini disebut hernia ingunalis lateralis ireponibins pada keadaan ini belum gangguan penyaluran isi usus, isi hernia yang menyebabkan ireponibilis adalah omentum, karena mudah melekat pada dinding hernia.
  2. Terjadi tekanan terhadap cincin hernia, akibat makin benyaknya usus yang masuk cincin hernia relatif semakin sempit dan menimbulkan gangguan isi perut, ini dsebut hernia inguinalis lateralis inkarserata.
  3. Bila hernia dibiarkan maka akan timbul edema dan terjadi penekanan pembuluh darah sehingga terjadi nekrosis keadaan ini disebut hernia ingunalis lateralis stranggulasi, terjadi karena usus berputar (melintar) pada keadaan inkarserasi dan stranggulasi maka timbul gejala illeusmuntah, kembung dan obstipasi pada stranggulasi nyeri hebat daerah tonjolan menjadi lebih merah dan penderita sangat gelisah.

K.  Pengkajian
Menurut Doengoes Marilyn E (2000), pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan labolatorium dan diagnostic serta review catatan sebelumnya.
1.    Identitas
Identitas klien mencakup nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, suku/ bangsa, nomor medic, status, diagnose medis, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian dan alamat.
2.    Keluhan Utama
Keluhan utama merupakan keluhan klien yang bersifat subyektif pada saat dikaji. Biasanya keluhan utama yang dirasakan nyeri pada benjolan atau gejala muntah bila telah ada komplikasi.
3.    Riwayat Kesehatan Sekarang
Bagian ini menguraikan keluhan utama yang muncul secara kronologis meliputi faktor yang mencetuskan memperingan gejala, kualitas , lokasi/ penyebaran, upaya yang dilakukan serta waktu dirasakannya keluhan, durasi bila klien berjalan, bersin, batuk atau napas dalam.
4.    Riwayat Kesehatan Dahulu
Pada tahap ini dikaji mengenai latar belakang kehidupan klien sebelum masuk rumah sakit yang menjadi factor predisposisi seperti riwayat bekerja mengangkat benda- benda berat, tanyakan juga tentang  riwayat penyakit keturunan.
5.    Riwayat Keluarga
Pada tahap ini dikaji tentang riwayat kesehatan keluarga, adakah dalam keluarga yang mengalami penyakit sama dengan klien saat ini dan atau riwayat  penyakit keturunan.

Adapun data-data yang menjadi data fokus dari hernia adalah sebagai berikut:
1.    Aktivitas/istirahat
Gejala : Kelemahan, riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat berat, tidak mampu melakukan aktivitas yang biasdanya dilakukan.
Tanda : Gangguan dalam berjalan, kelemahan ambulasi
2.    Eliminasi
Gejala : Konstipasi, tidak dapat flaktus
Tanda : Adanya retensi urine atau inkontinensia urine
3.    Makanan/cairan
Gejala : Hilangnya nafsu makan, mual, muntah
Tanda : BB turun, dehidrasi, lemas otot
4.    Nyeri/kenyamanan
Gejala : Nyeri tekan pada kwadran bawah, semakin memburuk dengan adanya batuk, bersin, mengangkat benda berat, defekasi, nyeri tak ada hentinya/ada episode nyeri yang lebih berat secara intermiten.
Tanda : Perubahan cara berjalan, nyeri tekan abdomen
5.    Keamanan
Gejala : Peningkatan suhu 39.6 - 400C
(Doengoes Marilyn E, 2000)

Selain  itu dilakukan pemeriksaan fisik berdasarkan Tim KMB (2010) meliputi:
1.      Inspeksi
Mengkaji tingkat kesadaran, perhatikan adanya bengkak; ada atau tidak adanya benjolan
2.      Palpasi
Tugor kulit, palpasi terhadap nyeri dan massa
3.      Auskultasi
Bising usus, bunyi nafas, bunyi jantung
4.      Perkusi
Kembung
Adapun data-data yang harus dikaji pasca operasi hernioraphy adalah sebagai berikut :
1.      Sistem pernafasan.
Potensi jalan nafas, perubahan pernafasan (rata-rata, pola dan kedalaman), RR < 10 x/menit, auskultasi paru: keadekuatan ekspansi paru, kesimetrisan. Inspeksi: pergerakan dinding dada, penggunaan otot bantu pernafasan diafragma, retraksi sternal, thorax drain.
2.      Sistem kardiovaskuler.
Sirkulasi darah, nadi dan suara jantung dikaji tiap 15 menit (4x), 30 menit (4x), 2 jam (4x) dan setiap 4 jam selama 2 hari jika kondisi stabil. Kaji sirkulasi perifer (kualitas denyut, warna, temperature, dan ukuran ekstremitas).
3.      Keseimbangan cairan dan elektrolit
Inspeksi membrane mukosa (warna dan kelembaban, turgor kulit, balutan), kaji intake/output, monitor cairan intravena dan tekanan darah.
4.      Sistem persarafan.
Kaji fungsi serebral dan tingkat kesadaran, kekuatan otot, koordinasi.
5.      Sistem perkemihan.
Kontrol volunter fungsi perkemihan kembali setelah 6 - 8 jam pasca anesthesia, retensio urine, Dower catheter bila terpasang (kaji warna, jumlah urine, output urine < 30 ml/jam)
6.      Sistem gastrointestinal.
Mual muntah, kaji fungsi gastrointestinal dengan auskultasi suara usus, kaji palitik ileus, Insersi NG tube intra operatif dengan drainage lambung (untuk memonitor perdarahan, mencegah obstruksi usus, irigasi atau pemberian obat, jumlah, warna, konsistensi isi lambung tiap 6- 8 jam).
7.      Sistem integumen.
Kaji faktor infeksi luka, diostensi dari odema/palitik illeus, tekanan pada daerah luka, dehiscence, eviscerasi.
8.      Balutan.
Semua balutan dan drain dikaji setiap 15 menit pada saat diruang post anesthesia recovery meliputi jumlah, warna, konsistensi, dan bau cairan drain dan tanggal observasi.
9.      Pengkajian nyeri.
Nyeri post operatif berhubungan dengan luka bedah. Kaji tanda fisik dan emosi (peningkatan nadi dan tekanan darah, hypertensi, diaphoresis, gelisah, menangis), kaji kualitas nyeri sebelum dan setelah pemberian analgetik (Doengoes Marilyn E, 2000).



L. 
Tekanan intra abdomen

Kelemahan otot abdomen karena usia atau kongenital
Kehamilan, batuk, mengejan
Peregangan rongga dinding
Herniasi
Cincin hernia
Hernia
Penekanan pembuluh darah
Strangulasi
Penekanan
Nyeri akut
Gangguan penyaluran isi (usus)
Makanan tidak dapat diabsorpsi
Lama tersimpan simpul
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
Pembedahan
Terputusnya kontinuitas jaringan lunak
Proses penyembuhan
Peningkatan metabolisme
Kebutuhan nutrisi
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
Keterbatasan gerak
Hipoperistaltik usus
Konstipasi
Kurang perawatan diri dan Intoleransi aktivitas
Detruksi pertahanan
Porte de entry
Masuknya mikroorganisme
Risiko infeksi
Cemas
Luka pembedahan
Nyeri akut
Pathway Keperawatan

Hernioplasti

Herniotomi

 



M.     Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan pada klien dengan hernia berdasarkan NANDA (2010) adalah:
1.    Nyeri akut berhubungan dengan penekakanan dan luka bedah
2.    Cemas berhubungan dengan tindakan operasi
3.    Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan memasukkan dan mencerna
4.    Konstipasi berhubungan dengan hipoperistaltik usus
5.    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
6.    Resiko infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan
N.      Rencana Asuhan Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan serebral
Tujuan: Klien dapat mengontrol nyeri
Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
a.    Tingkat kenyamanan
b.    Perilaku mengendalikan nyeri
c.    Tingkat nyeri

Kriteria evaluasi:
a.    Menunjukkan teknik relaksasi secara individual
b.    Mempertahankan tingkat nyeri (skala 0-10)
c.    Mengenali faktor penyebab dan menggunakan tindakan untuk mencegah nyeri/
d.   Menggunakan tindakan mengurangi nyeri dengan pemberian analgesik dan nonanalgesik secara tepat
a.    Pemberian analgesik
b.    Sedasi sadar
c.    Penatalaksanaan nyeri
Aktivitas keperawatan:
a.    Gunakan informasi dari klien untuk mengumpulkan informasi
b.    Ukur skala nyeri klien untuk menilai nyeri (skala 0-10)
c.    Gunakan kata-kata sesuai dengan usia dan tingkat perkembangan klien.
d.   Lakukan pengkajian nyeri berdasarkan letak, karakteristik, durasi, frekuensi dan kualitas nyeri.
e.    Observasi isyarat ketidaknyamanan nonverbal.
f.     Kolaborasi pemberian analgesik
a. Menyediakan data dasar untuk memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi.
b.Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan sehingga dapat membantu menentukan intervensi yang tepat.
c. Memberikan dukungan dan menurunkan ketegangan otot.
d.                                                                                             Meningkatkan relaksasi
e. Menfokuskan ulang perhatian
f. Menurunkan nyeri dengan pemeberian analgesik

2.      Cemas berhubungan dengan perubahan kesehatan atau ancaman kematian Tujuan: ansietas klien berkurang
Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
a.    Control ansietas
b.     Koping
c.     Control impuls
d.    Keterampilan interaksi sosial

a.    Kaji dan dokumentasi tingkat kecemasan
b.    Menetukan kemampuan pengambilan keputusan pada klien
c.    Sediakan informasi aktual menyangkut diagnosa, perawatan, dan prognosis
d.   Intruksikan klien tentang teknik relaksasi
e.    Berikan pengobatan untuk mengurangi ansietas, sesuai dengan kebutuhan

a.    Mengetahui sejauh mana kecemasan tersebut mengganggu klien
b.    Ungkapan perasaan dapat memberikan rasa lega sehingga mengurangi kecemasan
c.    Pengetahuan klien sehingga klien tahu dan mengerti tentang penyakitnya
d.   Menciptakan ketenangan batin sehingga kecemasan dapat berkurang
e.    Dengan mendengarkan keluahan klien secara empati maka klien akan merasa diperhatikan

Kriteria evaluasi:
a.     Ansietas berkurang
b.     Menunjukkan kontrol ansietas
c.     Mempertahankan penampilan peran
d.    Mengidentifikasi gejala yang merupakan indikator ansietas klien sendiri
e.     Tidak menunjukkan perilaku agresif




3.      Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan memasukkan dan mencerna
Tujuan: Pemulihan fungsi usus yang normal
Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
a.    Nutritional status: food nad fluid
b.    Nutrient intake
c.    Weight control

a.    Kaji status nutrisi klien (tekstur kulit, rambut, konjungtiva).
b.   Jelaskan pada klien tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh
c.    Timbang berat badan dan tinggi badan
Kaji adanya alergi makanan
2. Berikan substansi gula sesuai kebutuhan
4. Berikan makanan yang terpilih( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)
5. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian

menentukan dan membantu dalam intervensi selanjutnya
peningkatan pengetahuan klien dapat menaikan partisipasi bagi klien dalam asuhan keperawatan
Penurunan berat badan yang signifikan merupakan indikator kurangnya nutrisi
Untuk mengetahui apakah pasien ada alergi makanan
substansi gula dapat meningkatkan energi pasien
ntuk memenuhi status gizi pasien
Catatan harian makanan dapat mengetahui asupan nutrisi pasien

Kriteria evaluasi:
d.    Keadaan umum baik mukosa bibir lembab
e.     Nafsu makan baik, tekstur kulit baik
f.      Berat badan dalam batas normal.



4.      Konstipasi berhubungan dengan penurunan hipoperistaltik usus
Tujuan: Pemulihan fungsi usus yang normal
Kriteria Hasil
Intervensi Keperawatan
Rasional
a.    Mencapai pemulihan kepada fungsi usus yang normal
a.     Dorong peningkatan asupan cairan dalam batas-batas retriksi cairan
a.  Meminimalkan kehilangan panas

b.    Melaporkan fungsi usus yang normal
b.     Berikan makanan yang kaya akan serat
b. Meningkatkan massa feses dan frekuensi buang air besar
c.    Mengenali dan mengkonsurasi makanan yang kaya serat
c.     Ajarkan pada pasien tentang jenis-jenis makanan yang banyak mengandung air
c.  Memberikan rasional peningkatan asupan cairan kepada pasien
d.   Berpartisipasi dalam peningkatan latihan yang ditingkatkan secara bertahap
d.    Dorong pasien untuk meningkatkan mobilitas dalam batas-batas toleransi latihan
d. Meningkatkan evakuasi usus

e.                  Menggunakan pencahar seperti yang diresepkan dan menghindari ketergantungan yang berlebihan pada pencahar serta enema
e.    Dorong pasien untuk menggunakan pencahar dan enema hanya bila diperlukan saja
e. Meminimalkan ketergantungan pasien pada pencahar serta enema dan mendorong pola evakuasi usus yang normal

5.    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
Tujuan: Meningkatkan partisipasi dalam aktivitas dan kemandirian
Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
a.     Klien mampu mengidentifikasi aktivitas dan situasi yang menimbulkan kecemasanyang berkonstribusi pada intoleransi aktivitas.
b.     Klien mampu berpartisipasi dalam perawatan diri tanpa bantuan atau dengan bantuan minimal tanpa menunjukkan kelelahan

Managemen Energi
a.  Tentukan penyebab keletihan: nyeri, aktivitas, perawatan , pengobatan
b. Evaluasi motivasi dan keinginan klien untuk meningkatkan aktivitas.
c.  Monitor asupan nutrisi untuk memastikan ke adekuatan sumber energi.
d. Letakkan benda-benda yang sering digunakan pada tempat yang mudah dijangkau
e.  Bantu klien melakukan ambulasi yang dapat ditoleransi.
f.  Rencanakan jadwal antara aktivitas dan istirahat.
a.    Sumber penyebab keletihan dapat mengidentifikasi penyebab keletihan
b.    Motivasi dapat memberikan dorongan melakukan aktivitas
c.    Nutrisi yang seimbang memebrikan energi untuk melakuakan aktivitas
d.   Benda-benda yang letaknya dekat mempermudah jangkauan klien
e.    Ambulasi melatih kemandirian klien
f.     Aktivitas dan istirahat yang direncanakan akan menyesuaikan kemampuan klien

6.    Resiko infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan
Tujuan: Tidak menampilkan gejala infeksi
Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
a.     Individu akan mendemonstrasikan pengetahuan tentang faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan pontensial terhadap infeksi
b.     Individu akan melaksanakan tindakan pencegahan yang sesuai untuk mencegah infeksi.
a.  Pertahankan tehnik isolasi
b. Batasi pengunjung bila perlu
c.  Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung
d. Pertahankan lingkungan aseptic selama pemasangan alat
e.  Tingkatkan intake nutrisi
f.  Berikan terapi antibiotik bila perlu

a.    Untuk mencegah terjadinya infeksi
b.    Untuk mengurangi resiko infeksi dari pengunjung
c.    Untuk mencegah penyebaran pathogen terhadap pengunjung
d.   Untuk mengurangi penyebaran pathogen
e.    Untuk mempertahankan asupan nutrisi klien
f.     Antibiotik sebagai pelindung tubuh untuk menolak pathogen yang merugikan bagi tubuh
Sumber: NIC, NOC, Doenges (2000)


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa hernia merupakan protusio (penonjolan) abnormal dari sebuah organ, jaringan atau bagian dari sebuah organ yang keluar menembus struktur yang secara normal menampungnya. Dua faktor utama penyebab hernia yaitu defek dalam integritas dinding otot dan peningkatan tekanan intra-abdomen. Kelemahan otot yang bersifat kongenital adalah faktor utama yang berkombinasi dengan faktor-faktor lain yang meningkatkan tekanan intra-abdomen.
Umumnya penderita mengalami benjolan yang bersifat temporer yang dapat mengecil dan menghilang yang disebabkan oleh keluarnya suatu organ sehingga dapat menimbulkan rasa nyeri, kadang-kadang disertai mual dan muntah.
Pengkajian klien dengan hernia dilakukan sebelum tindakan peioperatif maupun setelah dilakukan tindakan perioperatif. Diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan hernia meliputi nyeri akut berhubungan dengan penekakanan dan luka bedah, cemas berhubungan dengan tindakan operasi, ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan memasukkan dan mencerna, konstipasi berhubungan dengan hipoperistaltik usus, intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, dan resiko infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan. Intervensi dilakukan sesuai dengan respon klien.
B.     Saran
Saran yang yang dapat diajukan oleh penulis sebaiknya pada pasien hernia menghindari faktor risko pada hernia misalnya sering mengejan dan mengangkat beban berat. Selain itu, pada pemberian asuhan keperawatan klien dengan hernia tidak hanya memperhatikan faktor fisiologis saja tetapi faktor psikologi juga harus diperhatikan karena keperawatan bersifat holistik. Pemberian asuhan keperawatan klien dengan hernia sesuai dengan respon klien. Tindakan keperawatan yang dapat diberikan tidak hanya melalui terapi farmakologis saja tetapi terapi non farmakologis yang sesuai dengan kompetensi perawat.